Kamis, 05 November 2015

REVIEW BUKU STUDI ILMU HADITS

A.       PENDAHULUAN
Identitas Buku
Judul buku    : Studi Ilmu Hadits
Pengarang    : Drs, KH. M. Abduh Almahar,    M.Ag
Penerbit      : Gaung Persada Press
Reviewer    : Lisa Rachmawati

a.       Pengantar
   Hadits merupakan sumber ajaran Islam setelah Al-Qur’an yang bersumber dari Rasulullah SAW, berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya. Hadits yang diterima dari Rasul tersebut berjumlah 800 ribu, suatu jumlah yang sangat banyak ketimbang Al-Qur’an yang hanya sekitar 6 ribu ayat. Ilmu Hadits adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat-sifatnya. Akan tetapi para ulama menjadikan Ilmu Hadits sebagai ilmu yang berdiri sendiri, yang secara otomatis para ulama telah merumuskan secara khusus tentang batasan ilmu ini. Ada sebuah hadits yang artinya : “Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kau tidak akan pernah tersesat, selama kau berpegang teguh pada keduanya yakni; kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul”. (H.R. Al-Hakim) (Al-Suyuthi, TT : 130). Hadits diatas menunjukan bahwa Al-Qur’an dan Hadits merupakan petunjuk dan pedoman hidup umat Islam. Jika kedua pedoman itu dipegang teguh dalam mengarungi dunia, umat Islam akan selamat sejahtera dunia akhirat, demikian pula sebaliknya, Umat Islam akan tersesat selamanya, apabila meninggalkan kedua pedoman tersebut. Hadits diatas juga memberi petunjuk bahwa hadits meruapakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an. Oleh karena itu, keharusan mengikuti Sunnah Rasul sama halnya dengan kewajiban mengikuti ajaran Al-Qur’an, hal ini karena hadits merupakan mubayyin terhadap Al-Qur’an, yang oleh karenanya siapapun tidak akan bisa memahami Al-Qur’an secara utuh tanpa memahami Hadits.
b.      Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah diuraikan dalam latar belakang di atas, Adapun permasalahan yang akan dianalisis  sebagai berikut:
1.         Apa gagasan utama dari buku ini ?
2.         Apa sajakah manfaat kita jika kita memperdalam ilmu hadits ?
3.         Apa sajakah yang dibahas dalam buku ini ?
4.             Apa sajakah kekurangan dan kelebihan dari buku ini ?

B.  ISI BUKU
Bab 1 menjelaskan tentang Pengertian dan struktur tentang hadis yang terdiri dari pengertian Hadis, Sunnah, Khabar dan Atsar serta menjelaskan tentang struktur dari hadis itu sendiri. Yang pada intinya Pengertian hadis adalah hadits secara terminologis sinonim dengan Sunnah, keduanya diartikan sebagai segala sesuatu yang diambil dari Rasulullah sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul. Akan tetapi bila disebut kata Hadits, umumnya dipakai sebagai segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW setelah kenabian, baik berupa sabda, perbuatan maupun taqrir. Dengan demikian Sunnah lebih luas pengertiannya daripada hadits. (Al-Khatib, 1998:8). Sunnah dalam terminologi Ulama’ Hadits adalah segala sesuatu yang diambil dari Rasulullah SAW, baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat fisik dan non-fisik ataupun sepak terjang beliau sebelum diutus menjadi Rasul, seperti tahannus (berdiam diri) di gua Hira, ataupun sesudah menjadi Rasul, baik berupa konsekuensi hukum syara’ ataupun tidak. Adapun yang dimaksud dengan Khabar secara terminologis ialah verita dari Nabi SAW, sahabat maupun dari Tabi’in (Ash-Shiddiqi, 1997:14). Dikatakan bahwa antara Hadits dan Khabar terdapat makna umum dan khusus yang mutlak. Jadi setiap Hadits adalah Khabar, tetapi tidak sebaliknya.
Menurut terminologi jumhur ulama yang dimaksud dengan Atsar sama artinya dengan Khabar dan Hadits. Kata Khabar dan Atsar disebut secara mutlak, dan dimaksudkan sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan Tabi’in. Hanya saja fuqaha Khurasan menyebut Mauquf dengan sebutan Atsar dan Marfu’ dengan sebutan Khabar.
Struktur Hadits meliputi Sanad, Matan dan Mukharij (Rawi). Kita perhatikan sebuah terjemahan hadits yang mengandung ketiga istilah tersebut. Imam Bukhori meriwayatkan yang artinya :
Berkata Imam Bukhori: Telah menceritakan kepada kami Adam (ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b (ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Sa’id Al-Maqburiy dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda: “ Sesungguhnyya kami akan datang kepada manusia satu zaman dimana seseorang tidak akan memperdulikan lagi tentang harta yang ia peroleh, apakah dari (hasil) yang halal atau dari (hasil) yang haram.” (H.R. Bukhari)
Rangkaian kata “Berkata Imam Bukhari.....” disebut Sanad, redaksi Hadits “Sesungguhnya akan datang.....” disebut Matan, dan sebagai penutup Hadits “Imam Bukhari” disebut Mukhaarij (Rawi).
       Bab 2 Menjelaskan tentang Hadits Seabagai Sumber Ajaran Islam dengan membahas Dalil Kehujjahan Hadits dan Fungsi Hadits Terhadap Al-Quran.
Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa hadits meruapakan ajaran Islam banyak kita jumpai, diantaranya seperti dikemukakan oleh ‘Ajaj Al-Khitab (1998:23-31) sebagai berikut : (Q.S. An-Nisa’ : 136) , (Al-A’raf: 158) , (Q.S. An-Nisa’ : 59) , (Q.S. Al-Maidah : 92) , (Q.S. An-Nisa’ : 80) , (Q.S. Al-Hasyr : 7) dan (Q.S. An-Nisa’ : 113) serta masih banyak lagi. Salah satu dalil kehujjahan hadits dari hadits Nabi SAW sebagai berikut :
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua hal yang sekali-kali kamu tidak akan tersesat selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya” (H.R. Imam Malik)
Hadits diatas menunjukan bahwa Rasulullah SAW diberi Al-Kitab dan Sunnah dan mewajibkan kita berpegang teguh kepada keduanya kerta mengambil apa yang ada pada Sunnah seperti mengambil apa yang ada pada Al-Kitab.
Fungsi Hadits terhadap Al-Quran yang dikemukakan dalam buku ini yaitu Bayan Ta’kid dan Bayan Tafsir. Fungsi Hadits sebagai Bayan Ta’kid maksudnya ialah menguatkan atau menggarisbawahi kembali apa yang terdapat dalam isi kandungan Al-Qur’an. Dan fungsi hadits sebagai Bayan Tafsir yaitu memperjelas, merinci, bahkan membatasi pengertian lahir dari ayat-ayat Al-Qur’an.
       Bab 3 menjelaskan tentang Hadits Pada Masa Rasulullah SAW yang membahas Pengantar dan Penyampaian haditsnya. Ada beberapa sahabat yang popular dalam meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa Nabi tidak suka bila haditsnya ditulis, ada juga yang memakruhkan penulisan hadits, sementara itu beberapa hadits justru mengizinkan penulisan hadits.
Dalam menerima ajaran agama Islam dari Rasulullah terdapat beberapa point yang dapat mewakili sekaligus mencerminkan penyampaian hadits dari Rasulullah, diantaranya melalui Majlis Rasulullah, Peristiwa yang terjadi pada Rasulullah, Kejadian yang menimpa umat Islam dan Perbuatan Rasulullah yang disaksikan Sahabat.
       Bab 4 menceritakan tentang Hadits Pada Masa Sahabat yang akan membahas tentang pengertian sahabat , metode hadits pada masa sahabat , perjalanan mencari sebuah hadits, sahabat terbanyak dalam periwayatan hadits, nama-nama sahabat dalam meriwayatkan hadits dan kritikan terhadap Abu Hurairah . Pada masa sahabat ini dikenal sebagai Masa Pengetatan Periwayatan Hadits. Metode hadits pada masa sahabat, dalam meriwayatkan hadits, ada dua jalan, yaitu : Metode periwayatan secara lafzi dan periwayatan secara maknawi. Hanya karena khawatir lupa akan hadits, seorang sahabat perlu mengukuhkan dan mengecek kesahihannya kepada sahabat yang lain, dengan cara melakukan perjalanan ilmiah dari Hijaz ke Mesir, seperti yang pernah dilakukan oleh Abu Ayyub. Sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits dari Rasul ada tujuh orang , yaitu Abu Hurairah, Abdullah Ibn Umar ibn Al-Khattab, Anas ibn Malik, Aisyah ibn Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abdullah ibn Abbas ibn Abu Muthalib, Jabir ibn Abdillah Al-Anshari dan Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’d ibn Malik ibn Sinan Al-Anshari. Banyak sekali nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadits yang tersebar di berbagai negara yang tidak bisa kita sebutkan satu-satu disini. Kedudukan Abu Hurairah sebagai perawi hadits, yang kedhabithannya luar biasa, tak luput dari kritikan yang dilakukan oleh para sahabat Rasul seperti Ibnu Abbas dan Siti Aisyah.
       Bab 5 menjelaskan tentang Hadits pada masa Tabi’in. Menurut para ahli hadits, Tabi’in adalah orang yang pernah bertemu dengan seorang sahabat atau lebih walaupun tidak sempat (ikut) bersamanya; dan seseorang dapat dikategorikan tabi’ bila hanya pernah melihat sahabat (Al-Khatib, 1989 : 80). Dalam bab ini membahas tentang Cara menerima dan menyampaikan hadits pada masa tabi’in dengan sumber penerimaan hadits bagi tabi’in, perhatian tabi’in dalam pengajaran hadits, metode tabi’in dalam menjaga Sunnah yaitu Kehati-hatian (ihtiyath) dalam menyampaikan atau meneroma hadits dan mencari kepastian (Al-Tatsabbut) dalam penerimaan hadits,  beberapa asas yang dipakai tabi’in dalam majlis hadits yaitu dengan memperhatikan kemampuan penerima hadits, tabi’in tidak menyampaikan hadits kecuali yang mampu, harus mempelajari Al-Qur’an terlebih dahulu, menjauhi hadits munkar, syadz dan semacamnya, penyampaian bervariasi (Al-Tanw’ wa Al-Taghyir daf’an li Al-Milal), penghormatan terhadap hadits Nabi SAW dan Muzakarah. Selain itu dalam bab ini juga membahas tentang Munculnya gerakan pemalsu Hadits dan penanggulangannya dengan Iltizam Al-Isnad, Mudha’afat Al-Nasyat Al-‘ilmiy wa Al-Tatsabbut fi Al-Hadits, Tatabbu’ Al-Kadzbah, Bayan Ahwal Al-Ruwat, Peletakan dasar kaidah untuk mengetahui kebohongan suatu hadits dan Tadwin Al-Hadits. Jumlah tabi’in tidak dapat dihitung secara pasti, sedangkan sahabat sendiri berjumlah lebih kurang seratus ribu orang yang tersebar diseluruh pelosok wilayah Islam yang dapat saja dijumpai oleh ribuan Tabi’in.
       Bab 6 menjelaskan tentang Periwayatan Hadits Bi Al-Lafzhi dan Bi Al-Makna. Yang dimaksud dengan periwayatan bi Al-Lafzhi adalah memindahkan kata-kata Nabi SAW sesuai dengan aslinya (Al-Jawabi, TT : 207). Mereka yang meneguhkan setiap apa yang diterima Nabi dan tidak meriwayatkan kepada yang lain kecuali setelah menelaah huruf demi huruf dan memahami maknanya. Mereka tidak merubah sedikitpun atau memalingkan yang didengarnya dari Nabi SAW. Sedangkan Bi Al-Makna adalah meriwayatkan dengan redaksi yang berbeda tetapi sesuai dengan yang dimaksud Nabi, tentu redaksi yang berbeda ini membutuhkan sejumlah syarat yang ketat (Al-Jawabi, TT : 207). Mereka umumnya meriwayatkan karena hal darurat dan kesulitan untuk secara terperinci menghafal lafazh demi lafazh secara terperinci. Dalam bab ini juga menjelaskan tentang pandangan Ulama terhadap Periwayatan bi al-Lafzhi  dan bi al-Makna. Dan juga memberitahukan beberapa contoh hadits.
       Bab 7 didalamnya menjelaskan tentang Hadits maudhu’ atau disebut juga dengan Hadits palsu. Dalam sejarah, kegiatan pemalsuan hadits tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang memusuhi Islam, tetapi juga dilakukan kalangan pemeluk Islam sendiri. Pengertian Maudhu’ menurut terminologi ulama hadits adalah sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi SAW secara mengada-ada dan dusta, yang tidak beliau sabdakan, beliau kerjakan, ataupun beliau taqrirkan (Al-Khatib, 1981 : 415). Berdasarkan fakta historis, dapat diketahui bahwa pemalsuan hadits itu bermula dari tujuan-tujuan politik yang mulai muncul menjelang pertengahan abad pertama Hijriyah, kemudian berkembang pada masalah akidah dan kepentingan-kepentingan lain yang hampir mencakup seluruh aspek kehidupan. Di bab ini juga membahas tentang faktor-faktor pendorong timbulnya Hadits maudhu’, pemalsuan Hadits yang disengaja disebabkan pertentangan politik, usaha kaum zindik, perbedaan Ras dan Fanatisme suku, negara dan Imam, Para tukang Cerita (Menarik simpati kaum awam), senang kebaikan tanpa pengetauan Agama yang cukup, perbedaan madzhab dan Teologi dan disebabkan karena ingin menjilat atau mencari muka kepada penguasa. Ada juga pemalsuan Hadits yang tidak disengaja. Ada pembahasan tentang Ciri-ciri Hadits Maudhu’ , usaha para ulama membendung Hadits Maudhu’ , Hukum memalsukan dan meriwayatkan Hadits, tokoh-tokoh Hadits Maudhu’ dan tentang kitab-kitab Hadits yang memuat Hadits Maudhu’ .
       Bab 8 menjelaskan tentang ‘Ilm Al-Jarh wa Al-Ta’dil. Yang terdiri dari Pengertian Ilmu Al-Jarh dan Al-Ta’dil, legalitas ilmu Al-Jarh wa Al-Ta’dil, sejarah perkembangan Ilmu Al-Jarh wa Al-Ta’dil, syarat pentarjihan dan penta’dilan serta cara mengetahui keadilan perawi, tingkatan Jarh dan Ta’dil , juga Literatur Al-Jarh wa Al-Ta’dil. Ilmu Al-Jarh wa Al-Ta’dil sendiri mempunyai posisi yang sangat penting dalam disiplin ilmu Hadits, ini untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu Hadits. Kedudukan ilmu ini semakin signifikan ketika seseorang hendak melakukan penelitian Hadits atau biasa dikenal dengan sebutan Takhrij Al-Hadits. Secara terminologis, Nurudin Al-‘Atar mendefinisikan Al-Jarh sebagai kecacatan seorang perawi yang disebabkan oleh sesuatu yang dapat merusak keadilan atau ke-dhabit-annya.(Al-‘Atar, 1979 : 92) Sedangkan Al-Ta’dil berarti membersihkan seorang perawi dan menetapkannya bahwa ia adalah seorang yang adil atau dhabit.(Al-‘Atar, 1979 : 92)
Tentang definisi ‘Ilm Al-Jarh wa Al-Ta’dil  Al-Khatib (1989 : 261) mengatakan sebagai Ilmu yang membahas keadaan perawi dari segi penerimaan atau penolakan riwayatnya. Legalitas ilmu Al-Jarh wa Al-Ta’dil adalah keberadaanya didasari oleh alasan Syar’i (naqli) dan alasan obyektivitas ilmu (aqli). Sejarah perkembangan Ilmu Al-Jarh wa Al-Ta’dil awalnya muncul bersamaan dengan tumbuhnya tradisi periwayatan dalam Islam. Di bab ini juga ditulis beberapa syarat dan kriteria bagi orang yang hendak melakukan praktek Tarjih dan Ta’dil. Terdapat tingkatan Jarh dan Ta’dil yang masing-masing mempunyai 6 peringkat yang menurut ahli ulama ada tingkatan yang memeperbolehkan Hadits tersebut diterima dan ada pula tingkatan yang membuat Hadits tersebut ditolak. Dengan melihat perjalanan sejarah ilmu ini, nampaknya masih terbuka lebar bagi kalangan pemerhati Hadits Nabi untuk berkiprah di dalamnya. Semakin banyak ilmuwan dibidang ilmu Jarh wa Ta’dil maka keterpeliharaan hadits-hadits  Nabi semakin terjamin, karena merekalah sesungguhhya penjaga warisan Nabi.
       Bab 9 memaparkan tentang Ulumul Hadits, Sejarah dan Perkembangannya yang membahas tentang Pengertian Ilmu Hadits, Sejarah dan Perkembangan Ilmu Hadits, Macam-macam Ilmu Hadits dan Tokoh-tokoh Ilmu Hadits dan Karya Ilmiahnya. Ulumul Hadits sendiri atau biasa disebut dengan Ilmu Hadits adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat-sifatnya. Sejarah dan perkembangan Ilmu Hadits cikal bakalnya sebenarnya mulai tumnbuh sejak masa Rasulullah SAW, sejalan dengan penyampaian Hadits-hadits kepada para sahabat. Setelah Rasul wafat umat Islam menghadapi kesulitan dalam hal penerimaan atau periwayatan suatu hadits, terutama hadits-hadits yang hanya diterima yang disampaikan oleh seorang saja. Selanjutnya, tentang perkembangan Ilmu Hadits ini, Syeikh Nurudin Al-‘Athar, dalam karyanya  Al-Madkhal ila ‘Ulumil Hadits (Al-Syahrazuri, 1972 :  18-19), membagi ke dalam tujuh periode.
Cabang-cabang ilmu hadits yang hampir tak terhitung jumlahnya itu, diantaranya adalah Ilmu Rijalul Hadits, Al-Jarh wa Al-Ta’dil, ‘Ilmu ilal Hadits, ‘Ilmu Mukhtalif Al-Hadits, ‘Ilmu Gharieb Al-Hadits, ‘Ilmu Nasikh wa Mansukh Hadits, ‘Ilmu Asbab Wurud Al-Hadits, ‘Ilmu Tarikh Ar-Ruwah. Di bab ini juga terakhir mambahas tentang tokoh-tokoh ilmu hadits dan karya-karya ilmiahnya yang tidak bisa disebutkan satu-satu disini.
       Bab 10 ini akan menjelaskan tentang Pembagian Hadits Ditinjau dari Segi Kuantitasnya. Yang terdiri dari  Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad.
Pengertian Hadits Mutawatir sendiri adalah Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta dari sejumlah rawi yang semisal mereka dan seterusnya sampai akhir sanad, dan semuanya bersandar pada panca indera. Hadits Mutawattir terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Hadits Mutawattir Lafzhiy dan Hadits Mutawattir Ma’nawiy.
Hadits Ahad adalah hadits yang jumlah rawi-rawi pada thabaqat pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya pada hadits tersebut, mungkin satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih. Hadits Ahad dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Masyhur, Aziz dan Gharib.
Hadits Mutawattir berfaidah sebagai ilmu dharuriy’ , suatu keharusan untuk menerimanya dengan keyakinan yang qath’iy (pasti). Sedangkan Hadits Ahad berfaidah sebagai ilmu nazhariy’, harus diadakan penelitian pada status hadits ini, jika akan dijadikan sebagai hujjah atau dalil.
       Bab 11 ini akan memaparkan tentang Pembagian Hadits ditinjau dari Segi Kualitasnya. Persoalan yang muncul seputar topik ini yaitu, pembagian hadits ke dalam tiga klasifikasi yaitu Hadits Shahih, Hadits Hasan dan Hadits Dha’if.
Suatu Hadits dapat dinilai shahih apabila memenuhi syarat-syarat berikut : Sanadnya bersambung, Perawinya adil, perawinya dhabith, haditsnya bukan Hadits Syad dan Haditsnya bukan Hadits Mu’allal. Para ahli membagi hadits ke dalam dua bentuk Shahih li Dzatihi (dengan sendirinya) dan  Shahih li Ghairihi (Shahih karena ditopang hadits yang lain). Hukum mengamalkan Hadits Shahih menurut para ahli hadits adalah wajib.
Seperti halnya Hadits Shahih, Hadits Hasan pun terbagi atas dua bentuk yaitu, Hasan li Dzatihi  dan Hasan li Ghairihi. Hukum mempergunakan Hadits Hasan dimana dapat dijadikan Hujjah (sandaran dalam beramal) (Al-Nawawi, 1991 : 68). Hadits Dha’if adalah Hadits yang tidak memuat semua syarat-syarat  Hadits Shahih dan Hadits Hasan. Sebaiknya Hadits Dha’if tidak dipergunakan dalam beramal. Termasuk dalam Fadhil Al-A’mal dan Targhib wa Tarhib. Apabila masih ada Nash Al-Qur’an dan Hadits Shahih dalam persoalan yang dibahas atau dibicarakan.
Bab 12 ini adalah bab terakhir yang akan membahas tentang Ilmu Takhrij Al-Hadits yang terdiri dari Pengertian Takhrij, Sejarah dan tujuan ilmu Takhrij, Metode Takhrij dan Analisis : Takhrij sebagai Ilmu Penelitian. Takhrij sendiri maksudnya adalah sipulan menyebutkan hadits-hadits dengan sanad-sanad miliknya sendiri dan dalam sanad bertemu dengan perawi dalam sanad pengarang kitab sebelumnya, baik pada pihak guru yang diatas lagi, maka pengarang yang kedua disebut mustakhrij.Sejarah dan tujuan ilmu Takhrij menurut Al-Mahdi (TT : 4) bahwa ilmu takhrij pada mulanya hanyalah berupa tuturan yang belum tertulis menjadi sebuah kitab. Ada beberapa metode takhrij yaitu sebagai berikut :
1.    Takhrij melalui perawai hadits pertama
2.    Takhrij melalui lafadz pertama matan hadits
3.    Takhrij menurut kata-kata dalam matan hadits
4.    Takhrij melalui tema hadits, dan
5.    Takhrij berdasarkan status hadits (Al-Thahhan, 1991 : 35)
Langkah-langkah penelitian hadits yaitu sebagai berikut :
1.    Melacak hadits di kitab Mana berada
2.    Menyusun Struktur Sanad perawi Hadits, dan
3.    Melakukan Verifikasi persambungan Sanad.

C.  GAGASAN PENTING
Buku ini berisi tentang Pengertian dan Struktur hadits, Hadits sebagai sumber ajaran Islam, Hadits pada masa Rasulullah pada masa sahabat dan pada masa Tabi’in, Periwayatan hadits bi al-Lafzdi dan bi al-Ma’na, Hadits Maudhu’ (palsu), Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, Ulumul Hadits, Hadits ditinjau dari segi kuantitas dan kualitasnya serta berisi tentang Ilmu Takhrij al-Hadits sebagai petunjuk praktis untuk melakukan penelusuran dan penelitian tentang keshahihan hadits.



D.  ANALISIS BUKU
Keunggulan dan Kelemahan buku :
Di dalam Ilmu Hadits ini, kita mengetahui tentang pengertian, istilah-istilah hadits, sejarah dan perkembangan ilmu Hadits, hadits ditinjau dari segi kuantitas dan kualitasnya, hadits palsu dan masih banyak lagi. Jadi, tidak ada salahnya bagi para santri mengoleksi buku ini agar bisa memperdalam pengetahuan tentang Haditsnya . Adapun bagi para umat Islam dan kaum terpelajar mahasiswa perguruan tinggi Islam khususnya, buku ini dapat menjadi sumber acuan untuk memahami Ilmu Hadits dan mendapat wawasan ilmu keislaman klasik yang pada saat ini sering dilupakan oleh umat Islam pada khususnya. Dalam buku ini, pengarang mencoba membahas segala sesuatu tentang hadits sampai dengan perkembangannya secara gamblang membuat buku ini menarik untuk dipelajari.
Namun, buku ini agak sedikit kurang dipahami karena terlalu banyaknya sub-sub judul yang menjadi penjelasan terhadap pokok bahasannya. Sehingga dalam  pemahamannya ditemukan berbagai kesulitan. Kemampuan penulis dalam menjabarkan contoh tidak begitu menekankan kepada inti permasalahannya, sehingga diperlukan analisis dan pemahaman yang mendalam.
E.   PENUTUP
Kesimpulan :
Hadits merupakan sumber ajaran Islam setelah Al-Qur’an yang bersumber dari Rasulullah SAW, berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya. Hadits yang diterima dari Rasul tersebut berjumlah 800 ribu, suatu jumlah yang sangat banyak ketimbang Al-Qur’an yang hanya sekitar 6 ribu ayat. Di dalam buku ini menjelaskan tentang pengertian Ilmu Hadits yang berarti ilmu hadist adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat-sifatnya. Di buku ini juga membahas istilah-istilah hadits, sejarah dan perkembangannya, hadits palsu juga memaparkan hadits ditinjau dari segi kualitas dan kuantitasnya, dan juga ilmu cara dan langkah-langkah untuk menganalisis suatu hadits. Buku ini sangat cocok bagi para umat Islam dan kaum terpelajar mahasiswa perguruan tinggi Islam khususnya, buku ini dapat menjadi sumber acuan untuk memahami Ilmu Hadits dan mendapat wawasan ilmu keislaman klasik yang pada saat ini sering dilupakan oleh umat Islam pada khususnya. Namun, buku ini agak sedikit kurang dipahami karena terlalu banyaknya sub-sub judul yang menjadi penjelasan terhadap pokok bahasannya. Sehingga dalam  pemahamannya ditemukan berbagai kesulitan.

Saran:

Sebaiknya buku ini disusun lebih sistematis lagi, agar mudah dipahami bagi para kalangan pelajar atau mahasiswa yang membacanya. Dan dalam menjabarkan contohnya pun sebaiknya lebih menekankan pada inti permasalahannya sehingga bisa lebih mudah untuk dipahami. 

Effect of Jigsaw I Technique on Achievement in Written Expression Skill (Pengaruh Jigsaw I Teknik perkembangan pencapaian dalam Ekspresi Keterampilan Menulis)

1.      Latar Belakang
Pembelajaran kooperatif dapat dicirikan sebagai pendekatan pembelajaran di mana siswa membangun kelompok campuran kecil di kelas dan lingkungan lainnya untuk saling membantu dalam mempelajari pelajaran akademis tertentu sesuai dengan tujuan umum di mana individu kepercayaan diri didorong dan komunikasi dan interaksi dikembangkan di mana pemecahan masalah dan kemampuan berpikir ditingkatkan dan di mana siswa berpartisipasi dalam proses pembelajaran secara aktif dan mengajarkan sesuatu satu sama lain (Bolling, 1994; Bowen, 2000; Carol, 1988; Coppola & Lawton, 1995; Eilks, 2005; Gardener & Korth, 1996; Gillies, 2006; Hall & Paolucci, 1972; Hennessy & Evans, 2006; Imel, 1989; Kerka, 1990; Levine, 2001; Lin, 2006; Parker, 1985; Prichard, Bizo & Stratford, 2006; prince, 2004; Slavin, 1991; Simsek, 2007).
Ekspresi tertulis didefinisikan sebagai perilaku kompleks yang melibatkan banyak keterampilan yang saling berkaitan, termasuk tata bahasa, tanda baca, tulisan tangan, ejaan, kreativitas, dan ekspresi (Shapiro, 1996) serta komponen ekspresi tertulis khusus, seperti mekanika, produksi, konvensi, linguistik, dan kognisi (Bradley Johnson & Lesiak, 1989).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari teknik Jigsaw I dan metode pengajaran tradisional pada keberhasilan akademis dalam subjek ekspresi tertulis dan mempelajari pandangan siswa tentang metode ini, yang termasuk dalam kelompok di mana teknik Jigsaw I diberikan.
2.      Masalah
Menurut tujuan yang telah disebutkan diatas, jawaban yang dicari untuk pertanyaan penelitian berikut dalam penelitian ini:
1.      Apakah ada perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test, yang mengukur keberhasilan akademis dalam keterampilan ekspresi tertulis serta uji stabilitas siswa termasuk dalam kelompok uji yang teknik jigsaw I diberikan dan siswa dari kelompok kontrol pada metode tradisional diterapkan?
2.      Apa pandangan siswa tentang metode ini, yang termasuk dalam kelompok di mana teknik Jigsaw I diberikan, tentang metode ini?

3.      Metodologi
Sampel penelitian ini terdiri dari 70 siswa dari dua kelas yang berbeda terdaftar untuk guru bahasa asli (Turkish Guru) program selama 2009-2010 tahun akademik di Universitas Ataturk. Salah satu kelas didefinisikan sebagai kelompok kontrol (n = 34) dan mendapat pendidikan dengan metode pengajaran tradisional, sedangkan kelompok eksperimen (n = 36) diajarkan oleh jigsaw.
Dalam penelitian ini, gaya belajar inventarisasi Kolb (1985), disesuaikan dengan bahasa Turki dan diuji dalam hal keandalan, telah digunakan untuk menentukan gaya belajar siswa (DenizlioÄŸlu, 2008). Dalam persediaan gaya belajar dari Kolb, ada 12 item yang masing-masing memiliki empat pilihan, dan siswa telah diminta untuk peringkat empat gaya belajar yang idealnya menggambarkan gaya belajar mereka sendiri (Askar & Akkoyunlu, 1993).
Data tentang kesuksesan akademik mereka dikumpulkan melalui Uji Sukses untuk Ekspresi Ditulis (STWE) digunakan sebagai pre-test dan post-test dan pandangan siswa tentang teknik jigsaw dikumpulkan melalui pandangan bentuk mempertanyakan siswa (SVF). Kemudian, hasil yang diperoleh dari mereka dianalisis oleh paket software SPSS.
Bab ini berisi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dimaksudkan untuk prinsip-prinsip, yang berlaku dalam teori dan praktek, dari subjek ekspresi tertulis dari Jigsaw I teknik yang diteliti dan metode pengajaran tradisional. Dalam proses latihan, subjek ekspresi tertulis diajarkan dengan menggunakan teknik Jigsaw I dari teknik pembelajaran kooperatif dalam kelompok uji sedangkan metode pengajaran tradisional digunakan untuk tujuan ini pada kelompok kontrol. Peneliti memutuskan untuk mengajar kedua kelompok (uji dan kelompok kontrol) subjek ekspresi tertulis empat kali seminggu selama enam minggu dengan menggunakan metode yang relevan dan teknik.
4.      Hasil penelitian
Dalam penelitian kami mengenai pengaruh teknik Jigsaw I dari teknik pembelajaran kooperatif pada keterampilan ekspresi tertulis, temuan menunjukkan sedikit variasi antara keberhasilan siswa kelompok uji, yang diajarkan oleh teknik jigsaw, dan keberhasilan mereka, yang diajarkan oleh metode tradisional pada kelompok kontrol, dalam perihal ekspresi tertulis. Ada banyak penelitian lain menunjukkan metode pembelajaran kooperatif dan teknik telah berpengaruh pada mata pelajaran menulis dan ekspresi tertulis.
Telah ditemukan bahwa kedua metode tradisional dan teknik Jigsaw I yang efektif pada kontrol. Selain itu, pre-test dan post-test, uji stabilitas kelompok eksperimen ', dan teknik Jigsaw yang sedikit lebih efektif daripada pengajaran tradisional.
Menurut temuan yang berkaitan dengan pandangan siswa tentang teknik Jigsaw I diperoleh pada akhir proses eksperimental, terlihat bahwa sebagian besar siswa menyatakan bahwa teknik Jigsaw meningkatkan keberhasilan, mendorong rasa percaya diri, mengembangkan kerjasama dan interaksi, membuat siswa lebih aktif dan mendorong mereka untuk penelitian.
5.      Kesimpulan
Umumnya, siswa yang berbeda memiliki gaya belajar yang berbeda dan terlalu banyak adalah pelajar pasif, terutama di kelas seperti statistik. Dengan membuat setiap siswa bagian dari solusi, dengan teknik jigsaw perbedaan antara siswa yang tahu dan siswa yang belum tahu, mengharuskan semua siswa untuk membuat tanggapan aktif, dan bergerak menjauh dari pengalaman belajar sebagai kegiatan soliter yang terpisah dari konteks sosial. Teknik ini juga membantu siswa menghargai bahwa salah satu cara terbaik untuk belajar adalah untuk mengajar orang lain (Webb, 1992).
Berdasarkan kesimpulan ini, dapat dikatakan bahwa teknik khusus jigsaw dan metode pembelajaran kooperatif umumnya memiliki efek positif pada keberhasilan siswa dan partisipasi dalam pelajaran dalam belajar bahasa. Ini mungkin disarankan bahwa teknik Jigsaw I juga digunakan dalam studi lain yang dimaksudkan untuk kemampuan bahasa lainnya.
6.      Komentar

Keunggulan dari penelitian ini adalah penelitian ini menggunakan metode dengan membandingkan model pembelajaran jigsaw dengan model pembelajaran yang tradisional yang di teliti langsung dengan menggunakan beberapa sampel. Dari penelitian tersebut kita bisa mengetahui keunggulan dari model pembelajaran jigsaw yaitu bisa membuat siswa pada saat mengikuti pembelajaran mengharuskan semua siswanya untuk berperan aktif dan membuat tanggapan aktif serta bergerak menjauh dari pengalaman  berlajar sebagai kegiatan soliter yang terpisah dari konteks sosial.

Kamis, 29 Oktober 2015

BAB V
PERTUMBUHAN MIKROBA
TIK :
TIK :
TIU : Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa dapat               mempelajari pertumbuhan dan perkembangan mikroba.
1.    Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa dapat memahami pengertian pertumbuhan dan perkembangan mikroba.
2.    Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa dapat mendeskripsikan grafik pertumbuhan mikroba.
3.    Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mikroba.

A.      Pertumbuhan Mikroba
Pertumbuhan adalah penambahan secara teratur semua komponen sel suatu jasad. Pembelahan sel adalah hasil dari pembelahan sel. Pada jasad bersel tunggal (uniseluler), pembelahan atau perbanyakan sel merupakan pertambahan jumlah individu. Misalnya pembelahan sel pada bakteri akan menghasilkan pertambahan jumlah sel bakteri itu sendiri. Pada jasad bersel banyak (multiseluler), pembelahan sel tidak menghasilkan pertambahan jumlah individunya, tetapi hanya merupakan pembentukan jaringan atau bertambah besar jasadnya. Dalam membahas pertumbuhan mikrobia harus dibedakan antara pertumbuhan masing-masing individu sel dan pertumbuhan kelompok sel atau pertumbuhan populasi.
Pertumbuhan multiseluler, dapat ditinjau dari dua segi, yaitu pertumbuhan sel secara individu dan pertumbuhan kelompok sebagai satu populasi. Pertumbuhan sel diartikan sebagai adanya penambahan volume serta bagian-bagian sel lainnya. Pertumbuhan populasi merupakan akibat dari adanya pertumbuhan individu, misal dari satu sel menjadi dua, dari dua menjadi empat, dan seterusnya hingga berjumlah banyak.
Pada mikroorganisme, pertumbuhan individu (sel) dapat berubah langsung menjadi pertumbuhan populasi. Karena apabila mikroorganisme mengalami pertumbuhan sel, maka secara langsung mikroorganisme itu telah mengalami pertumbuhan populasi akibat bertambah banyaknya jumlah indivudu.

B.       Binary Fission / Pembelahan Biner



Gbr 1. Proses pembelahan biner
Pertumbuhan mikroba ditentukan pula oleh kemampuan dalam mereproduksi sel. Perkembangbiakan mikroba dapat terjadi secara aseksual (yang paling umum) dan secara seksual (terjadi pada beberapa individu saja). Pada bakteri misalnya, perkembangbiakan secara aseksual terjadi secara pembelahan biner, yaitu sel induk membelah menjadi dua sel anak. Kemudian masing-masing sel anak akan membentuk dua sel anak lagi, dan seterusnya hingga makin membanyak. Selama sel membelah maka akan terjadi keselarasan replikasi DNA sehingga tiap-tiap sel anak akan menerima paling sedikit satu kopi (salinan) dari genom.
Perbanyakan sel dengan cara pembelahan ini, kecepatannya ditentukan oleh waktu generasi. Ada jenis yang mempunyai waktu generasi lambat atau lambat sekali. Ada pula yang waktu generasinya sangat singkat atau cepat.


      
Gbr 2. Mikroba yang sedang membelah
C. Pertumbuhan Populasi
Pertumbuhan dapat diamati dari meningkatnya jumlah sel atau massa sel (berat kering sel). Pada umumnya bakteri dapat memperbanyak diri dengan pembelahan biner, yaitu dari satu sel membelah menjadi 2 sel baru, maka pertumbuhan dapat diukur dari bertambahnya jumlah sel. Waktu yang diperlukan untuk membelah diri dari satu sel menjadi dua sel sempurna disebut waktu generasi. Waktu yang diperlukan oleh sejumlah sel atau massa sel menjadi dua kali jumlah/massa sel semula disebut doubling time atau waktu penggandaan. Waktu penggandaan tidak sama antara berbagai mikrobia, dari beberapa menit, beberapa jam sampai beberapa hari tergantung kecepatan pertumbuhannya. Kecepatan pertumbuhan merupakan perubahan jumlah atau massa sel per unit waktu.

D.      Pengukuran Pertumbuhan
Pertumbuhan diukur dari perubahan jumlah sel atau berat kering massa sel. Jumlah sel dapat dihitung dari jumlah sel total yang tidak membedakan jumlah sel hidup atau mati, dan jumlah sel hidup (viable count). Jumlah total sel mikrobia dapat ditetapkan secara langsung dengan pengamatan mikroskopis, dalam bentuk sampel kering yang diletakkan di permukaan gelas benda (slide) dan dalam sampel cairan yang diamati menggunakan metode counting chamber, misalnya dengan alat Petroff-Hausser Bacteria Counter (PHBC) untuk menghitung bakteri atau dengan alat haemocytometer untuk menghitung khamir, spora, atau sel-sel yang ukurannya relatif lebih besar dari bakteri.
Jumlah sel hidup dapat ditetapkan dengan metode plate count atau colony count, dengan cara ditaburkan pada medium agar sehingga satu sel hidup akan tumbuh membentuk satu koloni, jadi jumlah koloni dianggap setara dengan jumlah sel. Cara ini ada dua macam, yaitu metode taburan permukaan (spread plate method) dan metode taburan (pour plate method). Cara lain untuk menghitung jumlah sel hidup adalah dengan filter membran dan MPN (Most Probable Number) yang menggunakan medium cair. Sampel mikrobia yang dihitung biasanya dibuat seri pengenceran.
Pertumbuhan sel dapat diukur dari massa sel dan secara tidak langsung dengan mengukur turbiditas cairan medium tumbuh. Massa sel dapat dipisahkan dari cairan mediumnya menggunakan alat sentrifus (pemusing) sehingga dapat diukur volume massa selnya atau diukur berat keringnya (dikeringkan dahulu dengan pemanasan pada suhu 90-1100C semalam). Umumnya berat kering bakteri adalah 10-20 % dari berat basahnya.

E.       Pertumbuhan Populasi Mikroba
Suatu bakteri yang dimasukkan ke dalam medium baru yang sesuai akan tumbuh memperbanyak diri. Jika pada waktu-waktu tertentu jumlah bakteri dihitung dan dibuat grafik hubungan antara jumlah bakteri dengan waktu maka akan diperoleh suatu grafik atau kurva pertumbuhan. Pertumbuhan populasi mikrobia dibedakan menjadi dua yaitu biakan sistem tertutup (batch culture) dan biakan sistem terbuka (continous culture).
Pada biakan sistem tertutup, pengamatan jumlah sel dalam waktu yang cukup lama akan memberikan gambaran berdasarkan kurva pertumbuhan bahwa terdapat fase-fase pertumbuhan. Fase pertumbuhan dimulai pada fase persiapan/ fase lag, fase pertumbuhan yang dipercepat, fase pertumbuhan logaritma (eksponensial), fase pertumbuhan yang mulai dihambat, fase stasioner maksimum, fase kematian dipercepat, dan fase kematian logaritma.
Berikut ini adalah kurva dari pertumbuhan bakteri :


Gbr 3. Kurva pertumbuhan mikroba


Kurva di atas disebut sebagai kurva pertumbuhan bakteri. Terdapat empat fase pada pertumbuhan bakteri sebagaimana tampak pada kurva, yaitu :
1.    Fase lag (fase persiapan, fase adaptasi, adaptation phase)
Pada fase ini laju pertumbuhan belum memperlihatkan pertumbuhan ekponensial, tetapi dalam tahap masa persiapan. Hal ini tergantung dari kondisi permulaan, apabila mikroba yang ditanami pada substrat atau medium yang sesuai, maka pertumbuhan akan terjadi. Namun sebaliknya apabila diinokulasikan mikroba yang sudah tua meskipun makanannya cocok, maka pertumbuhannya mikroba ini membutuhkan masa persiapan atau fase lag.
Waktu yang diperlukan pada fase ini digunakan untuk mensintesa enzim. Sehingga mencapai konsentrasi yang cukup untuk melaksanakan pertumbuhan ekponensial. Fase ini berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung dari jenis mikroba serta lingkungan yang hidup.
Selama fase ini perubahan bentuk dan pertumbuhan jumlah individu tidak secara nyata terlihat. Karena fase ini dapat juga dinamakan sebagai fase adaptasi (penyesuaian) ataupun fase-pengaturan jasad untuk suatu aktivitas didalam lingkungan yang mungkin baru. Sehingga grafik selama fase ini umumnya mendatar.
2.    Fase logaritme (fase eksponensial, logaritma phase)
Setelah setiap individu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru selama fase lag, maka mulailah mengadakan perubahan bentuk dan meningkatkan jumlah individu sel sehingga kurva meningkat dengan tajam. Peningkatan ini harus diimbangi dengan banyak faktor, antara lain:
a.    Faktor biologis yaitu bentuk dan sifat jasad terhadap lingkungan yang ada, serta assosiasi kehidupan di antara jasad yang ada kalau jumlah jenis lebih dari sebuah.
b.    Faktor non-biologis antara lain kandungan sumber nutrien di dalam media, temperatur, kadar oksigen, cahaya, dan lain sebagainya.
Fase ini menunjukkan kemampuan mikroorganisme berkembang biak secara maksimal. Setiap sel mempunyai kemampuan hidup dan berkembang biak secara tepat.
3.    Fase stasioner (Stationary phase)
Dalam fase ini, terjadi penumpukan racun akibat metabolisme sel dan kandungan nutrien mulai habis, akibatnya terjadi kompetisi nutrisi sehingga beberapa sel mati dan lainnya tetap tumbuh. Sehingga, jumlah sel menjadi konstan atau tetap.
4.    Fase kematian (Death phase)
Fase ini diawali setelah jumlah mikroorganisme yang di hasilkan mencapai jumlah yang konstan, sehingga jumlah akhir mikroorganisme tetap maksimum pada masa tertentu. Setelah masa dilampaui, maka secara perlahan-lahan jumlah sel yang mati melebihi jumlah sel yang hidup. Fase ini disebut fase kematian.
Fase kematian mengalami penurunan jumlah sel, karena jumlah sel mikroba mati. Namun penurunan jumlah sel tidak mencapai nol, sebab sebagian kecil sel yang mampu beradaptasi dan tetap hidup dalam beberapa saat waktu tertentu. Pada fase ini merupakan akhir dari suatu kurva dimana jumlah individu secara tajam akan menurun sehingga grafik tampaknya akan kembali ke titik awal lagi.


F.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba
1.      Suhu
Suhu adalah satu faktor yang terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup dari semua organisme hidup. Suhu yang rendah umumnya memperlambat metabolisme seluler., sedangkan suhu yang lebih tinggi meningkatkan taraf kegiatan sel. Tetapi tiap organisme memiliki batas suhu terendah, batas suhu tertinggi, batas-batas terhentinya tumbuh, dan suhu optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi. Ketiga batas suhu ini dinamakan suhu kardinal (titik kardinal).
a.    Suhu pertumbuhan minimum adalah suhu terendah organisme masih dapat hidup dan tumbuh.
b.    Suhu pertumbuhan optimum adalah suhu yang diperlukan untuk multiplikasi dalam taraf yang tercepat. Untuk kebanyakan organisme pertumbuhan optimum terjadi dalam suatu jangka suhu (t-range), bukan pada suatu suhu yang pasti dan batas tertingginya hanya beberapa derajat di bawah suhu pertumbuhan maksimum.
c.    Suhu pertumbuhan maksimum adalah suhu tertinggi yang masih memungkinkan ada pertumbuhan. Seringkali kenaikan sedikit saja di atas suhu ini mengakibatkan kematian mikroorganisme karena ada enzim yang menjadi nonaktif. 
Suhu-suhu kardinal untuk berbagai macam mikroorganisme berbeda-beda. Jangka suhu terendah 5 sampai 10°C dan tertinggi dari 70 sampai 75°C. Kebanyakan mikroorganisme yang ditemukan dalam air, tanah, bahan-bahan yang sedang membusuk, maupun kebanyakan yang patogen suhu kardinalnya berada antara 10 - 45°C.
Berdasarkan pada perbedaan jangka suhu pertumbuhan inilah bakteri dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan menurut sifat-sifatnya terhadap suhu.
v Golongan mesofil
Banyak spesies yang biasa hidup dalam tanah, air, dan tubuh vertebrata mereka dapat tumbuh pada suhu 10°C – 47°C. Tetapi suhu optimum pertumbuhannya adalah kira-kira 30°C - 45°C dan berbeda-beda pada masing-masing spesies. Spesies yang tumbuh baik dalam suhu ini dinamakan mesofil (meso : pertengahan ; philic : menyukai)
v Golongan psikrofil
Spesies yang termasuk dalam golongan psikrofil sanggup tumbuh pada suhu 0°C (psychros : dingin). Banyak mikroorganisme psikrofil dapat juga tumbuh baik pada suhu rendah dari golongan mesofil dan disebut psikrofil fakultatif. Sebaliknya, beberapa bakteri laut telah beradaptasi pada kehidupan dalam suhu kira-kira 4°C, suhu di tempat yang dalam sekali dan mati bila ditempatkan pada suhu kira-kira 30°C dalam beberapa menit. Bakteri ini dinamakan psikrofil obligat.
v Golongan termofil
Mikroorganisme yang tumbuh pada suhu di atas 45°C - 50°C seringkali dinyatakan sebagai termofil (thermo : panas). Spesies yang termofil hanya subur pada suhu tinggi (50°C dan diatasnya) dinamakan termofil obligat.


Golongan
Suhu pertumbuhan (Celcius)
Minimum
Optimum
Maksimum
Mesofil
10 - 15
30 - 45
35 – 47
Psikrofil fakultatif
<5
25 - 30
30 – 35
Psikrofil obligat
>5
15 - 18
19 – 22
Termofil
40 - 45
55 - 75
60 – 85
Tabel 1. Klasifikasi bakteri berdasarkan suhu pertumbuhan


2.      Cahaya
Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak tergantung pada cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar ultraviolet.
3.      Kelembapan
Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar dalam bentuk larutan (holophytis).
Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85%, sedang untuk jamur dan aktinomiset diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80%.
4.      pH
pH sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0 ) atau sedikit basa (pH 7,2-7,4), tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH (6,6 – 7,5).
Berdasarkan pada perbedaan pH, mikroorganisme dibedakan adanya tiga golongan besar, yaitu:
a.    Mikroorganisme asidofilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2 – 5.
b.    Mikroorganisme yang mesofilik (Neutrofilik), yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5,5 - 8,0
c.    Mikroorganisme yang alkalifilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8,4 - 9,5.
5.      Oksigen dari Udara
Berdasarkan responnya terhadap oksigen bebas, maka bakteri dibagi dalam tiga golongan yaitu :
a.    Bakteri aerob (obligate aerob)
Yaitu bakteri yang hanya hidup dalam lingkungan yang mengandung oksigen bebas. Misalnya : Vibroiro cholera, Corynebacterium diphtheriea
b.    Bakteri anaerob (obligate anaerob)
Yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung oksigen bebas. Misal: Clostridium tetani, Treptonema pallida.
c.    Fakultatif aerob
Yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan yang mengandung oksigen bebas maupun tidak. Misal : Salmonella typhi, Neisseria mengitidis. Bakteri-bakteri fakultatif aerob pada umumnya lebih baik tumbuh pada pada lingkungan yang sedikit mengandung oksigen bebas. Karena itu lebih tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.
6.      Tekanan Osmotik
Air keluar masuk sel bakteri melalui proses osmosis, karena perbedaan tekanan osmotik antara cairan yang ada di dalam dengan sel yang ada di luar bakteri. Protoplasma selalu mengandung zat yang terlarut di dalamnya, karena itu tekanan osmotiknya selalu tinggi dari air murni.
Bila bakteri dimasukkan dalam aquades, maka air akan masuk ke dalam sel bakteri. Hal ini menyebabkan bakteri menggembung, mungkin pecah dan mati. Peristiwa ini disebut Plasmoptysis.
Sebaliknya bila bakteri dimasukkan ke dalam cairan hipertonis akan menyebabkan plasma dari dinding sel dan kematian bakteri. Peristiwa ini disebut Plasmolisa.

G.      Media Biak bagi Pertumbuhan Mikroba
Gbr 4. Media Biak Mikroba
Untuk menumbuhkan dan mengembangbiakan mikroorganisme, diperlukan suatu substrat yang disebut media. Media itu sendiri sebelum dipergunakan harus dalam keadaan steril, artinya tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme lain yang tidak diharapkan.
Salah satu syarat untuk pertumbuhan mikroorganisme adalah kadar ion hidrogen yang ada dilingkungannya. Alasan inilah yang amat penting untuk menggunakan nilai pH awal yang optimum dan mempertahankannya sepanjang pertumbuhan. Organisme hidup paling baik pada pH 7.
Berdasarkan komposisi atau susunan bahannya sesuai dengan fungsi fisiologis dari masing-masing komponen (unsur hara) yang terdapat di dalam media, maka susunan media pada semua jenis mempunyai kesamaan isi, yaitu:
a.    Kandungan air
b.    Kandungan nitrogen, baik berasal dari protein, asam amino, dan senyawa lain yang mengandung nitrogen.
c.    Kandungan sumber energi/unsur C, baik yang berasal dari karbohidrat, lemak, protein, ataupun senyawa-senyawa lain.
d.   Faktor pertumbuhan, umumnya vitamin dan asam amino.























LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) MIKROBIOLOGI
PERTEMUAN V PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MIKROBA

1.        Apa perbedaan pertumbuhan pada organisme multiseluer dengan pertumbuhan pada organisme uniseluler ?
2.        Jelaskan mekanisme dari pembelahan biner atau binary fission !
3.        Sebutkan fase-fase pada pertumbuhan mikroba !
4.        Faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba ? jelaskan!
5.        Berdasarkan perbedaan pH, mikroba digolongkan menjadi berapa golongan ? sebutkan !
6.        Berdasarkan perbedaan suhu, mikroba digolongkan menjadi berapa golongan ? sebutkan !
7.        Bagaimana reaksi bakteri apabila dimasukkan ke dalam larutan hipotonis dan larutan hipertonis ?








A.      Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan cara mengurutkan huruf-huruf yang diacak !
1.        Tiap organisme memiliki batas suhu terendah, batas suhu tertinggi, batas-batas terhentinya tumbuh, dan suhu optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi. Ketiga batas suhu ini dinamakan suhu ...
NIDARLAK                               =          KARDINAL
2.        Mikroorganisme yang dapat tumbuh pada pH antara 8,4 - 9,5 disebut dengan istilah ...
LALILAFIKIK               =          ALKALIFILIK
3.        Salah satu bakteri yang hidup di dalam lingkungan yang mengandung oksigen bebas maupun tidak dan menyebabkan penyakit adalah ...
LALONLEMAS_PYHIT           = SALMONELLA TYPHI
4.         Bila bakteri dimasukkan larutan hipotonis, maka air akan masuk ke dalam sel bakteri. Hal ini menyebabkan bakteri menggembung, mungkin pecah dan mati. Peristiwa ini disebut dengan ...
MISSTOPSYPAL                       =          PLASMOPTYSIS
5.        Salah satu faktor pertumbuhan bakteri yang umumnya terdapat dalam media biak adalah ...
TIVINAM                                   =          VITAMIN








SOAL EVALUASI

1.        Fase pertumbuhan bakteri dimana laju pertumbuhan belum memperlihatkan pertumbuhan ekponensial, tetapi dalam tahap masa persiapan. Fase ini termasuk ke dalam ... FASE LAG
2.        Fase pertumbuhan bakteri dimana pertumbuhan bakteri sudah optimal sehingga laju pertumbuhannya tetap disebut dengan fase ... FASE STASIONER
3.        Bakteri yang dapat tumbuh dalam sumber air panas termasuk ke dalam golongan bakteri ... TERMOFIL
4.        Bila bakteri dimasukkan ke dalam cairan hipertonis akan menyebabkan plasma dari dinding sel dan kematian bakteri disebut dengan peristiwa ... PLASMOLISA
5.        Apabila bakteri dapat tumbuh pada pH yang asam, maka bakteri ini termasuk ke dalam golongan ... ASIDOFILIK









1. Bakteri aerobik obligat berkumpul di bagian atas tabung reaksi untuk dapat menyerap oksigen dengan maksimal.
2. Bakteri anaerob obligat berkumpul di bawah untuk menghindari oksigen.
3. Bakteri anaerob fakultatif berkumpul terutama di atas, karena respirasi aerobik yang menguntungkan, namun tidak adanya oksigen tidak menghambat mereka sehingga dapat ditemukan di sepanjang tabung.
4. Mikroaerofil berkumpul di bagian atas tabung reaksi tetapi tidak pada bagian atas. Mereka membutuhkan oksigen, tetapi pada konsentrasi yang lebih rendah.